Seperti biasanya, setiap tahun aku
berkunjung ke komplek pemukiman Umat Kristen Bab Tuma ketika menyambut Natal,
tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, seperti kebanyakan rakyat Suriah pada
umumnya, Muslim, Sunni, Syi'ah dan Umat Kristen khususnya semua saling
menyambut hari raya tersebut, tidak pernah kudengar sedikitpun Ulama' ataupun
Tokoh Agama dan kalangan santri di Suriah mengecam menghujat atau sekedar
"nyinyir" untuk melarang selain umat Kristen mengucapkan atau
merayakan nya, sedikit pun tidak, justru malah sebaliknya, Menurut pandangan
pribadi ku, jumlah pengunjung Gereja ketika karnaval natal di kota-kota besar
Suriah malah justru mayoritas Muslim. Iya Muslim, baik bercadar, atau
berkerudung dengan modisnya akan banyak sekali ditemukan di sekeliling nya
untuk menikmati momen kerukunan, kebersamaan, dan kebahagiaan antar umat
beragama.
Bahkan pernah di tahun-tahun
sebelumnya, ku dapati seorang penjaga dari Militer seorang wanita yang
berkerudung, memegang senjata AK-47 dengan gagahnya berdiri di pojok jalan
bersama tim pengamanan natal lainnya, kami sempat mengobrol dan bertanya banyak,
hanya saja ketika itu ia menolak untuk kita abadikan dengan sekedar mengambil
foto atau video.
Tahun ini, aroma hari raya Natal umat
Kristen di Seluruh kota Suriah sangat berbeda sekali, jauh sangat berbeda dari
tahun-tahun sebelumnya, Ramai, meriah, nyaman, tenang dan aman, tentunya
setelah Suriah sudah dinyatakan terbebas dari para milisi bersenjata.
Di setiap tahun, natal yang merupakan
hari bahagia selalu bercampur dengan hari duka, karena di setiap harinya selalu
saja ada korban luka maupun tewas diakibatkan roket,rudal dan bom para
pemberontak yang membabi-buta tidak kenal siapa objeknya, terkhusus di komplek
Bab Tuma yang berbatasan langsung dengan Joubar, basecamp para Milisi Jays
Al-Islam.
Tahun lalu, saat mengantar salah satu
pegawai Kedubes Indonesia yang beragama Kristen pun masih sangat teringat jelas
suara teror dentuman dan baku tembak menyelimuti seantero ibukota. Meski
begitu semua tetap berjalan normal seperti biasanya.
Tahun ini, aku tidak sempat mengunjungi suasana meriahnya natal di Bab Tuma, selain karena aktifitas ku yang padat bersamaan jadwal menghadiri kajian ilmu bersama Prof. Dr. Nuruddin 'Itr Hafidzahullah di salah satu Masjid di Damaskus, pulang dalam keadaan lelah menunggu sulitnya trasnportasi macet, kesorean perut kosong kelaparan belum terisi sejak pagi juga karena sangat kedinginan. Tapi momen natal masih dapat kunikmati betapa bahagia nya Rakyat Suriah merayakan nya tanpa ancaman maut dan terror sedikitpun, terlihat di berbagai berita media sosial menghiasi mulai dari live streaming, video, foto kulihat satu persatu melalui smartphone ku, dibalik tebalnya selimut yang melindungi dari ekstremnya cuaca saat ini yang mencapai 4°c. Rasanya cukup disayangkan untuk dilewatkan, tapi apa daya badan dan fikiran tak ingin beranjak dari kasur dan selimut tercinta.
Poinnya bukan hanya disitu, tepat sebulan yang lalu, saat ku mengunjungi kota Homs yang hancur lebur diakibatkan konflik, salah seorang kawan yang menjamuku mengajak mengelilingi kota Homs tanpa tersisa dengan Mobil Pribadinya, bahkan kami diajak untuk mengunjungi Gereja Ummu Zannar yang dibangun pada 59 Masehi, atau tepatnya 1959 tahun yang lalu, dengan pemugaran sebanyak dua atau tiga kali sebelum dan sesudah konflik, banyak sekali kerugian yang dialami, bisa ditaksir jutaan bahkan miliaran dolar Amerika serikat, Gereja yang sangat tua kaya akan sejarah tersebut berhasil dihancurkan oleh para pemberontak bersenjata, bukan cukup sampai disitu, sebelum semua diledakkan dan dihancurkan, mereka berhasil memboyong seluruh isi gereja dari mulai barang antik bersejarah hingga barang berharga seperti salib emas murni yang totalnya miliaran dolar, mereka selundupkan dan mereka serahkan kepada majikan mereka, yaitu Amerika dan sekutunya, sungguh sangat disayangkan sekali.
Setelah berkunjung ke Gerja Ummu
Zannar, kami kembali dibawa berkunjung ke Gereja Sayyidah As-Salam yang berarti
Nyonya/Ratu Perdamaian, Awal mulanya dikarenakan sudah terlalu sore, kami
tidak diberi masuk gereja, akan tetapi setelah diberitahu bahwa kami datang jauh
dari Indonesia, sang penjaga pun langsung menelpon salah seorang pendeta di
Gereja tersebut untuk meminta izin, dengan kebaikan nya bahkan pendeta tersebut
dengan senang hati sengaja datang di tengah kesibukannya untuk menyambut kami,
kamipun bersalaman berkenalan dan diceritakan panjang lebar mengenai sejarah
Gereja Sayyidah As-Salam, sejak awal mula konflik hingga seperti sekarang ini
berhasil direhabilitasi secara total, sang pendeta bercerita, bahwa selama ia
hidup di Suriah, Umat Muslim tidak pernah mengganggu apalagi meneror mereka
beribadah, tapi setelah Suriah dimasuki para milisi bersenjata dari total
hampir kurang lebih 80 negara ikut bergabung dengan kelompok terroris radikalis
ISIS, Al-Qaeda, dan lainnya.
Seperti yang kalian lihat ujarnya, mungkin
saat ini pemerintah Suriah hanya mampu merehabilitasi fasilitas umum, seperti
Gereja, Masjid, Sekolah, Rumah Sakit dan pasar, akan tetapi sisanya? Lihatlah
di sekeliling sekolah dan tempat ibadah kami, semua luluh lantak tak tersisa
dan butuh waktu yang sangat lama untuk kembali. Lantas, sang pendeta pun
terheran kenapa harus ada pertikaian mengatasnamakan Agama yang mana agama
tersebut kita yakini tidak akan sama sekalipun berani membunuh, menteror, serta
menghancurkan semua nya tanpa tersisa, bahkan patung, salib, dan kuburan yang
benda mati pun mereka hancur ledakkan juga, apa yang membuat mereka begitu
panik dan nafsu memerangi manusia bahkan benda mati juga?
Kami memanggut serius menyimak paparan
sang pendeta sambil malu-malu karena kami adalah umat Muslim dan yang seperti
pendeta lihat kami berpakaian ala Islami saat memasuki dan mengunjungi Gereja
ini, dengan harapan, kami bukanlah salah satu atau representasi dari kelompok
terroris tersebut.
Bukan hanya sampai situ, saat masa konflik dan perang berkecamuk, sang pendeta pun hampir beberapa kali meregang nyawa, jiwa raga bahkan harta ia korbankan demi menyelamatkan tempat ibadahnya yang ia cintai ini, lain halnya seperti di Gereja Ummu Zannar, Gereja Sayyidah As-Salam berhasil ia selamatkan dari tangan kotor para pemberontak meski semua hancur seperti dalam foto, pendeta bercerita ia sempat menyelamatkan barang-barang berharga peninggalan sejarah kuno gereja tersebut, hingga pada saatnya ia pernah memasuki gereja saat baku tembak terjadi, dengan resiko mobil yang ia kendarai diledakkan oleh milisi tersebut dan ia berhasil lari dan kabur dengan barang bawaannya dengan selamat secara sembunyi-sembunyi mempertaruhkan nyawanya. Itulah sekelumit cerita dari kota Homs yang begitu tegar.
Dari secuil kisah tersebut, banyak
sekali pelajaran berharga yang harus kita petik, bahwa konflik kekerasan
mengatasnamakan Agama tidak dibenarkan sama sekalipun, apapun agamanya apapun
keyakinannya. Seperti halnya begitu Indahnya nama Gereja tersebut,
Sayyidah As-Salam/Ratu Perdamaian, semoga Pesan Perdamaian selalu tersirat
kapanpun dan dimanapun tempatnya, karena konflik perang adalah kejahatan Abadi
yang hanya menyisakan pilu dan luka bagi siapa saja yang mengalaminya.
7 tahun sudah cukup Suriah luluh
lantak diakibatkan perang, maka jangan sampai terulang kembali, terkhusus Tanah
Air kita tercinta,mari kita rawat keberagamaan ke "Bhineka Tunggal
Ika" an kita, agar kita tetap dapat hidup rukun, damai, aman beribadah dan
menjalankan tugas dan kewajiban kita sebagai hamba-Nya dengan baik, juga sesama
manusia dan kepada Tuhan kita semua pada Khususnya.
Dari Suriah Ibukota Perdamaian yang
terluka kami menyampaikan :
"Selamat hari raya Natal dan
Tahun Baru 2019"
Selamat atas
kemenangan yang diraih, semoga mampu bangkit segera & Re-build dengan baik. Aaamiiin
Damakus, 25 Desember 2018.

Toleransi yang menyejukkan
ReplyDelete